Bali selama ini dikenal sebagai surga dunia dengan pemandangan pantai yang menakjubkan dan keramahan budaya yang mendunia. Namun, di balik gemerlap pariwisata yang kembali bangkit setelah pandemi, muncul sebuah fenomena yang jarang dibahas secara terbuka ke publik. Sisi Gelap Bali mulai muncul ke permukaan seiring dengan meningkatnya kepadatan penduduk di kawasan wisata populer seperti Canggu dan Seminyak. Masalah klasik seperti kemacetan yang tidak terkendali, polusi suara dari kelab malam, hingga kenaikan biaya hidup yang drastis mulai membuat banyak pendatang lama merasa tidak nyaman lagi menetap di area pusat keramaian.
Tim Fakta Bali melakukan observasi mendalam mengenai pergeseran tren tempat tinggal para warga negara asing (WNA). Jika dahulu kawasan pesisir menjadi incaran utama, kini terjadi gelombang migrasi besar-besaran ke arah utara dan timur pulau. Alasan utama Mengapa Banyak Bule mulai meninggalkan kawasan populer adalah kerinduan akan ketenangan yang dulu menjadi daya tarik utama Bali. Mereka merasa bahwa esensi spiritual dan kedamaian pulau ini perlahan terkikis oleh komersialisasi yang berlebihan. Lingkungan yang tadinya berupa hamparan sawah hijau kini telah berubah menjadi deretan beton dan suara musik yang berdentum hingga dini hari, menciptakan tekanan psikologis bagi mereka yang mencari ketenangan.
Kini, para ekspatriat dan wisatawan jangka panjang mulai Pilih Pindah Desa ke kawasan yang lebih autentik seperti Sidemen, Tabanan, hingga pelosok Buleleng. Di desa-desa terpencil ini, mereka mencoba untuk kembali hidup selaras dengan alam dan menjauh dari hiruk pikuk turisme massal. Fenomena ini menciptakan dinamika sosial baru di pedesaan Bali. Di satu sisi, kehadiran mereka memberikan dampak ekonomi bagi warga lokal melalui penyewaan lahan atau rumah. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran akan terjadinya gentrifikasi, di mana harga tanah di pedesaan mulai naik dan tidak terjangkau lagi oleh masyarakat asli setempat yang ingin membangun rumah di tanah kelahirannya sendiri.
Selain masalah kenyamanan, faktor keamanan dan perilaku melanggar hukum dari oknum wisatawan tertentu juga menjadi bagian dari cerita kelam ini. Persaingan bisnis yang tidak sehat dan praktik ilegal yang merugikan ekosistem lokal membuat para pendatang yang memiliki niat baik merasa terganggu. Suara Bali mencatat bahwa banyak dari mereka yang pindah ke desa sebenarnya ingin membangun komunitas yang lebih berkelanjutan dan menghormati adat istiadat setempat. Mereka berusaha berbaur dengan masyarakat adat melalui kegiatan sosial atau sekadar mengadopsi gaya hidup minimalis yang jauh dari kemewahan semu kawasan Kuta maupun Canggu.
