Pulau Dewata sering kali digambarkan sebagai surga tropis dengan pemandangan alam yang memukau dan budaya yang kental. Namun, di balik kemegahan resor bintang lima dan kolam renang tak berujung yang menghadap samudra, sebuah ancaman eksistensial sedang mengintai masyarakat lokal. Fenomena krisis air Bali bukan lagi sekadar prediksi ilmiah untuk masa depan, melainkan kenyataan pahit yang mulai dirasakan oleh warga di berbagai kabupaten. Penurunan permukaan air tanah dan intrusi air laut menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem pulau ini sedang berada di ambang batas kemampuannya untuk menopang beban konsumsi manusia.
Melalui investigasi mendalam, tim Fakta Bali menelusuri akar permasalahan yang menyebabkan sumur-sumur warga mulai mengering. Salah satu faktor utama yang teridentifikasi adalah masifnya ekspansi industri perhotelan yang tidak dibarengi dengan manajemen sumber daya air yang berkelanjutan. Sebuah hotel mewah dengan ratusan kamar dan fasilitas rekreasi air mengonsumsi ribuan liter air setiap harinya, jauh melampaui kebutuhan rata-rata rumah tangga di sekitarnya. Ironisnya, ketika sektor pariwisata terus dipacu untuk bertumbuh, infrastruktur pengolahan air bersih untuk masyarakat justru sering kali terabaikan atau kalah bersaing dalam hal aksesibilitas.
Laporan ini juga menyoroti bagaimana dampak lingkungan ini berimbas pada sektor pertanian, yang merupakan identitas asli masyarakat Bali. Sistem irigasi tradisional Subak, yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya, kini terancam punah karena debit air sungai yang terus menyusut. Petani kini harus berebut air dengan kepentingan komersial, yang pada akhirnya mengancam ketahanan pangan lokal. Ketimpangan akses air ini menciptakan ketegangan sosial yang tersembunyi di balik senyum ramah sektor jasa. Masyarakat dipaksa membeli air dari tangki swasta dengan harga mahal, sementara bisnis besar di dekat mereka terus menikmati aliran air bawah tanah melalui sumur bor dalam.
Pemerintah daerah memang telah mengeluarkan berbagai regulasi mengenai pemanfaatan air tanah, namun penegakan hukum di lapangan sering kali menjadi titik lemah. Kurangnya pengawasan terhadap volume ekstraksi air oleh pelaku usaha membuat cadangan air tanah Bali terkuras tanpa kontrol yang memadai. Tim Fakta Bali menemukan indikasi bahwa banyak izin pemanfaatan air yang tidak diperbarui atau bahkan dilanggar tanpa sanksi yang tegas. Tanpa adanya tindakan korektif yang radikal, Bali terancam mengalami kerusakan ekologis permanen yang akan merusak daya tarik pariwisata itu sendiri dalam jangka panjang.
