Keseimbangan ekosistem pesisir merupakan fondasi utama bagi keselamatan masyarakat yang tinggal di garis pantai. Di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata, upaya untuk melakukan mitigasi bencana menjadi sangat krusial. Salah satu ancaman yang paling menghantui wilayah kepulauan adalah pengikisan daratan oleh air laut. Upaya untuk cegah abrasi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan demi menjaga kedaulatan daratan dan keberlangsungan hidup biota laut. Di Pulau Dewata, komitmen ini diwujudkan melalui aksi nyata yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan organisasi kemanusiaan.
Langkah konkret ini terlihat jelas melalui program tanam bakau yang diinisiasi sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan. Tanaman mangrove atau bakau memiliki sistem perakaran yang unik dan kuat, mampu memecah gelombang serta menahan laju pengikisan tanah oleh arus laut. Tanpa adanya sabuk hijau ini, daratan akan terus tergerus, yang pada akhirnya dapat merusak infrastruktur pemukiman dan pariwisata. Oleh karena itu, inisiatif ini menjadi benteng pertahanan alami yang paling efektif dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Peran PMI Bali dalam aksi lingkungan ini menunjukkan perluasan mandat organisasi yang tidak hanya fokus pada penanganan medis, tetapi juga pada pengurangan risiko bencana berbasis alam. Relawan dan staf dikerahkan untuk turun langsung ke lumpur pesisir, menanam bibit demi bibit dengan harapan besar bagi masa depan lingkungan. PMI memahami bahwa bencana alam seperti abrasi dapat memicu kerugian ekonomi dan sosial yang masif, sehingga tindakan preventif seperti ini jauh lebih berharga daripada penanganan pascabencana.
Fokus utama kegiatan ini berada di kawasan pesisir selatan, sebuah wilayah yang dikenal memiliki karakteristik ombak yang cukup kuat dan dinamika pantai yang aktif. Kerusakan di area ini tidak hanya mengancam estetika alam, tetapi juga mata pencaharian nelayan setempat. Dengan melakukan penanaman di titik-titik strategis, diharapkan ekosistem mangrove dapat kembali pulih dan berfungsi sebagai rumah bagi berbagai jenis ikan dan kepiting, yang secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga sekitar.
Gerakan untuk cegah abrasi ini juga melibatkan edukasi kepada masyarakat lokal. Menanam pohon hanyalah langkah awal; tantangan sesungguhnya adalah memastikan bibit tersebut tumbuh besar dan tidak dirusak oleh aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab. PMI Bali secara konsisten memberikan pemahaman bahwa menjaga hutan bakau adalah bentuk investasi keselamatan. Jika hutan bakau terjaga, maka ancaman rob dan intrusi air laut ke sumur-sumur warga dapat diminimalisir secara signifikan.
